Rabu, 23 September 2020

Elak

Kiranya sudah ribuan hari 

Sudah terhitung tahun

"Ahhh, itu lagi!"

Aku berseru pada aku dewasa

Mengapa seperti tak ada upaya?


Aku aku dan aku bermonolog lagi

Tidak! kubilang tidak, tidak saling menengahi

Optimisku bilang aku kaya memori

Sisi bodohku menertawai

"Kalau begitu kau sudah jadi dokter bodoh"

Sialan lalu apa!

Apa?

Jiwaku mencelos

Kau?

Ku bilang kau objek sadis yang menggerayangi otakku


Menepis tuduhan-tuduhan itu

Aku susah susah menyangkal

Bahwa itu karena kau

Dengan hati dongkol

Pikiran dangkal

Astaga

Mengapa semua terasa benar!

Sabtu, 14 Juli 2018

Suara yang ketiga

Membingungkan. Sebenarnya kau mau apa? Minta dikabari setiap hari? Minta dia selalu balas pesanmu? Membenci seseorang yang selalu ada di peredarannya? Tidak begitu kawan. Mau bagaimana pun pola pikirmu bertentangan dengan dia. Kalau dipikir kau memang tidak berhak tau apa kegiatannya hari ini bahkan sekedar tanya "kau sedang apa?' saja terlihat tidak nyaman. Kalau merasa tidak pandai tahu diri kau bisa pasang tulisan di manapun kalau kau bukan siapa-siapanya. Semua tetap memiliki batas, tidak bisa pakai ego. Kau akan menyesal jika bermain-main dengan ego yang tak pernah menyelesaikan itu. Dia berhak hidup tenang dari pertanyaan-pertanyaanmu yang menurutnya hanyalah perkara membuang waktu. Jangan terlalu memaksa kawan, sayangi dia sewajarnya. Kalau kau minta dikabari setiap hari apa tidak aneh? Kau bukan siapa-siapa. Kalau tak mau sedih jangan berharap seperti itu. Jangan merasa dipermainkan sewaktu dia tak membalas pesanmu. Karena dia memiliki dunia yang tak kau miliki. Kau tak berhak mencampurinya. Dia butuh ruang. Heran, kenapa yang bukan siapa-siapa malah jadi setengah gila karena merasa dipermainkan?  Semua yang berlebihan tak baik, kawan. Kau bisa lebih hancur jika meneruskan. Sudah tak diinginkan, malah mengacaukan. Dia bisa saja menganggap kalau kau penggangu dan malah membenci. Menambah perih hati. Luka lama masih basah, malah kembali bersimbah darah. Menyayangi dengan sewajarnya terdengar lebih menyenangkan. Tak perlu merasa setengah gila saat kau tak mendengar kabarnya. Ya memang tak mudah, tapi sesuatu yang kau butuhkan perlu diperjuangkan bukan? Perjuanganmu tidak harus terlihat dan tidak memaksa. Lipat rapi perasaanmu, jangan sampai berceceran tidak beraturan yang membuatmu menjadi semakin gila. Semesta tak suka melihat penghuninya seperti itu. Hanya menambah kekacauan, Percaya.


Sedikit intropeksi kawan, jangan terlalu memaksa jika tidak mau terluka. Kesindir gak nih? Semangat berjuang pejuang rasa. Ah semoga bermanfaat, lusa sudah masuk sekolah.
Salam sederhana dari qorin

Rabu, 16 Mei 2018

Temu

Kehidupan normal yang manusia jalani sehari-hari tak terlepas dari manusia lainnya. Aktivitas memaksa untuk bertemu individu-individu baru. Banyak pertemuan tak terduga menghadirkan cerita  bahkan sejarah baru. Entah aku hidup hari ke berapa, tetapi hari itu benar-benar terjadi. Pertemuan itu ada saat ruang dan waktu kita dalam lingkup yang sama. Aku, kau dan aktivitas kita. Ah terlalu cepat untuk bilang kita. Kemudian kita menjelma dalam satu atmosfer. Sering satu ruang walaupun tanpa bincang, hanya tentang tatapan yang sulit diartikan. Waktu berjalan tanpa pelit kejadian, pengalaman dan rasa. Mendekatkan kita meski masih ada banyak sekat. Di sini peranku sebagai perasa tanpa dibalas tuan. Aku pikir hanya bertukar pesan tak apa, tapi kenapa lama-lama hati menginginkan lebih. Ah sudah, kalau bicara tentang hati memang tidak ada habisnya. Bingung, karena di sini hanya pihakku yang menginginkan lebih. Kode-kode mengalir melalui media sosialku, sebenarnya itu hanya bagian dari rasa pengecutku karena tak berani mengungkapkan. Banyak yang manusia-manusia sekarang yang hanya menebar kode tanpa bisa mengungkapkan. Berhadap si dia peduli dan menanggapi. Mungkin sebenarnya dia peka dan merasa, hanya saja mungkin dia tidak peduli atau bahkan tidak mau berurusan dengan kode-kodemu lebih lanjut.

Sekian, apakah ada yang pernah mengalami seperti tulisanku di atas? Comment below!
Terimakasih selamat berpuasa.
Salam sederhana dari qorin.

Minggu, 08 Oktober 2017

Aku, Senjaku, dan Matahari



Penghujung aktivitasku diakhiri dengan pantulan cahaya senja merah menjingga. Semburatnya lebih indah dari apapun sore itu. Entah, aku langsung menandai senja sebagai hak milikku. Terdengar mengada-ada sekali memang. Senjaku menebarkan merahnya di tengah jalan pulang. Ah lihat aku menambahkan kata ‘ku’ di belakangnya. Aku seorang dari segelintir korban yang tenggelam oleh pesonanya. Setiap penikmatnya, aku yakin akan bersumpah serapah indah dalam ucap atau hatinya. Tuhan mengizinkan semesta untuk menciptakan senjaku. Jangan lupakan matahari mengiringi kehadirannya. Matahari ambil peran besar dalam kehadiran senjaku. Komponen penting dalam terciptanya senja. Hei, matahari hampir tak terkalahkan, semua isi bumi juga tau. Dia ada saat senja ada. Aku iri dia mendampingi Senjaku, tolong berkaca aku hanya penikmat. Penikmat hanya melihat. Egois jika cemburu dengan matahari. Hei, senja milik semua bukan hanya milikmu Bagaimana tidak, Sampai kapan pun aku mustahil jadi matahari.

Lain lagi ketika senjaku berkutat tentang dirinya sendiri. Senjaku bilang katanya warnya merah jingganya hanya penenang jiwa sementara Ya, sementara. Senjaku tak selamanya baik, sebenarnya ia singkat dan memikat. Kata singkat adalah sisi tak baiknya. Ucapnya bukan kejam, tapi mengingatkan untuk berpindah. Seusai menampakkan diri, senjaku tersungkur karena malam. Bintang dan bulan menggantikan pemilik semburat merah jingga itu. Lagi-lagi penikmatnya kecewa karena terlampau singkat. Seperti terusir untuk dialihkan kepada tenangnya bintang dan rindunya bulan. Persetan dengan bintang dan bulan. Mereka tersenyum melihat aku yang terlalu memaksakan ketika senja berakhir terseret matahari.

Perumpamaan senjaku adalah tentang kamu. Tentang kamu yang sebentar dan sementara seperti senja. Aku tahu senja indah, entah aku harus bilang apa. Ketika semua itu mulai ada, seenaknya kamu melengos pergi tanpa aba-aba. Perumpamaan matahari adalah tentang dia. Tentang dia yang ada, yang paling penting aku tidak bisa seperti dia. Dan aku tak perlu menyebutkan tentang aku.

Penuh penjiwaan dalam berpikir, tapi penuh keniscayaan dalam mencintai.