Selamat datang di sini, di tempat agak gak jelas ini. Seperti judulnya,blog ini isinya tulisan sederhana yang gak seberapa. Sebabnya yang bikin cuma amatiran dan tapi nggak curhat kok hehe. Happy reading!
Minggu, 08 Oktober 2017
Aku, Senjaku, dan Matahari
Penghujung aktivitasku diakhiri dengan pantulan cahaya senja merah menjingga. Semburatnya lebih indah dari apapun sore itu. Entah, aku langsung menandai senja sebagai hak milikku. Terdengar mengada-ada sekali memang. Senjaku menebarkan merahnya di tengah jalan pulang. Ah lihat aku menambahkan kata ‘ku’ di belakangnya. Aku seorang dari segelintir korban yang tenggelam oleh pesonanya. Setiap penikmatnya, aku yakin akan bersumpah serapah indah dalam ucap atau hatinya. Tuhan mengizinkan semesta untuk menciptakan senjaku. Jangan lupakan matahari mengiringi kehadirannya. Matahari ambil peran besar dalam kehadiran senjaku. Komponen penting dalam terciptanya senja. Hei, matahari hampir tak terkalahkan, semua isi bumi juga tau. Dia ada saat senja ada. Aku iri dia mendampingi Senjaku, tolong berkaca aku hanya penikmat. Penikmat hanya melihat. Egois jika cemburu dengan matahari. Hei, senja milik semua bukan hanya milikmu Bagaimana tidak, Sampai kapan pun aku mustahil jadi matahari.
Lain lagi ketika senjaku berkutat tentang dirinya sendiri. Senjaku bilang katanya warnya merah jingganya hanya penenang jiwa sementara Ya, sementara. Senjaku tak selamanya baik, sebenarnya ia singkat dan memikat. Kata singkat adalah sisi tak baiknya. Ucapnya bukan kejam, tapi mengingatkan untuk berpindah. Seusai menampakkan diri, senjaku tersungkur karena malam. Bintang dan bulan menggantikan pemilik semburat merah jingga itu. Lagi-lagi penikmatnya kecewa karena terlampau singkat. Seperti terusir untuk dialihkan kepada tenangnya bintang dan rindunya bulan. Persetan dengan bintang dan bulan. Mereka tersenyum melihat aku yang terlalu memaksakan ketika senja berakhir terseret matahari.
Perumpamaan senjaku adalah tentang kamu. Tentang kamu yang sebentar dan sementara seperti senja. Aku tahu senja indah, entah aku harus bilang apa. Ketika semua itu mulai ada, seenaknya kamu melengos pergi tanpa aba-aba. Perumpamaan matahari adalah tentang dia. Tentang dia yang ada, yang paling penting aku tidak bisa seperti dia. Dan aku tak perlu menyebutkan tentang aku.
Penuh penjiwaan dalam berpikir, tapi penuh keniscayaan dalam mencintai.
Langganan:
Postingan (Atom)